Unik! Inilah Beberapa Tradisi Menyambut Bulan Puasa

 

 

Jadiviral-Beberapa hari kedepan, masyarakat Muslim di Indonesia akan menyambut datangnya bulan Ramadhan. Biasanya, di sejumlah daerah ada tradisi turun-temurun yang dilakukan menjelang bulan puasa. Meski dilakukan dengan cara yang berbeda-beda, tujuannya sama: ungkapan rasa syukur atas datangnya bulan yang penuh berkah, Ramadhan.

Dan inilah sejumlah tradisi unik menyambut bulan Ramadhan yang ada di sejumlah daerah di Indonesia:

  • Pembagian kue apem di Surabaya 

Di Surabaya, kue apem dibagikan kepada tetangga dan kerabat bersama makanan dan kue lainnya. Banyaknya kue apem yang dibagikan berdasarkan angka pada tahun hijriah. Istilah apem berasal dari kata bahasa Arab, afwun, yang berarti maaf. Pembagian kue apem menjadi simbol permohonan maaf sesama manusia saat memasuki Ramadhan. Sebelum dibagikan, kue apem itu disusun seperti gunungan di halaman Masjid Al-Akbar, Surabaya.

  • Resik Lawon di Banyuwangi

Warga Banyuwangi mempunyai tradisi unik jelang Ramadhan yaitu mencuci dan mengganti kain kafan penutup petilasan Ki Buyut Cungking. Kain kafan ini memiliki panjang mencapai 110,75 meter. Buyut Cungking dipercaya sebagai orang sakti dan penasehat Prabu Tawangalun pada masa kerajaan Blambangan yang merupakan cikal bakal Kabupaten Banyuwangi. Ritual tersebut digelar antara tanggal 10-15 Ruwah dalam kalender Jawa pada Kamis atau Minggu. Ritual Resik Lawon diawali dengan melepas kain putih yang menutup cangkup makam. Kemudian, kain-kain tersebut dibawa ke Dam Krambatan Banyu Gulung untuk dicuci. Semua prosesi dalam ritual ini dilakukan oleh laki-laki.

  • Tradisi Malamang dan Marandang di Sumatra Barat

Tradisi Malamang dan Marandang biasanya dilakukan warga Padang, Sumatera Barat, untuk menyambut Ramadhan. Malamang adalah membuat penganan lemang. Tradisi ini memasak penganan yang terbuat dari beras ketan itu biasanya dilakukan sepekan hingga sehari menjelang hari-hari besar dan bulan puasa. Sementara, Marandang adalah memasak rendang. Hal ini dilakukan karena menganggap Ramadhan adalah bulan baik. Oleh karena itu, sebagai wujud rasa syukur, disajikan menu istimewa untuk sahur. Bahkan, tak jarang, mereka yang berada di perantauan meminta dikirimkan rendang dari kampung halaman sebagai sajian perdana menjalani santap sahur di bulan Ramadhan.

  • Tradisi Bajong Banyu di Magelang

Bajong Banyu adalah tradisi yang digelar rutin setiap tahun yang diikuti oleh warga Dawung, mulai anak-anak sampai orang tua. Tradisi ini bermakna membersihkan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Warga berkumpul di lapangan desa sejak pagi hingga sore hari. Kemudian, mereka berjalan kaki menuju sumber air yang berjarak sekitar 500 meter dari lapangan dusun. Selanjutnya, dilakukan prosesi pengambilan air dari sumber air Tuk Dawung oleh puluhan warga serta tokoh dan perangkat desa setempat. Tuk Dawung merupakan sumber mata air yang telah ‘menghidupi’ seluruh warga Dawung dan sekitarnya. Sebagai sumber pengairan lahan pertanian, air minum, membersihkan diri, dan kebutuhan lainnya. Air yang sudah dimasukkan ke dalam kendi dibawa kembali menuju lapangan dusun, kemudian disatukan dalam kendi besar yang secara simbolis diberi doa oleh sesepuh Dusun Dawung. Perang air diawali dengan warga saling melempar plastik yang berisi air. Mereka membaur menjadi satu. Semua bersuka cita.

  • Tradisi Megengan di Demak

Masyarakat di pesisir Pantai Utara ini menyambut Ramadhan dengan tradisi Megengan. Istilah “Megengan” dalam bahasa Jawa bermakna menahan. Artinya, umat Islam diingatkan untuk menahan hawa nafsu. Tradisi Megengan dimeriahkan dengan menampilkan acara kesenian rakyat, serta aneka kuliner tradisional. Kuliner tersebut disajikan di sepanjang Simpang Enam hingga kawasan Pecinan Demak.

  • Tradisi Balimau Kasai di Riau

Di Kabupaten Kampar Riau ada satu tradisi mandi bersama untuk menyambut bulan Ramadhan. Masyarakat Kampar menyebutnya Tradisi Balimau Kasai. Biasanya, agenda ini dilaksanakan sehari menjelang ibadah puasa dimulai atau tepatnya di penghujung bulan Syaban.

Balimau sendiri bermakna mandi dengan menggunakan air yang dicampur jeruk, yang oleh masyarakat setempat disebut limau. Jeruk yang biasa digunakan adalah jeruk purut, jeruk nipis, dan jeruk kapas.
Sedangkan kasai adalah wangi-wangian yang dipakai saat berkeramas.

Masyarakat setempat meyakini agenda Balimau Kasai merupakan simbol penyucian diri dan kesiapan untuk melakukan ibadah puasa Ramadhan.

 

  • Tradisi Dandangan di Kudus

Menurut sejarah, “dandangan” diambil dari suara bedug Masjid Kudus yang berbunyi “dang, dang, dang” saat ditabuh untuk menandai awal Ramadhan. Tradisi Dandangan telah mengakar kuat bagi masyarakat Kudus. Awalnya, Dandangan adalah tradisi berkumpulnya para santri di depan Masjid Menara Kudus setiap menjelang Ramadhan. Mereka menunggu pengumuman Syeikh Jafar Shodiq tentang penentuan awal puasa. Seiring berjalannya waktu, tradisi Dandangan juga dimanfaatkan para pedagang untuk berjualan di sekitar masjid. Akhirnya, Dandangan dikenal masyarakat sebagai pasar malam yang ada jelang Ramadhan. Kirab Dandangan dilakukan dengan mengitari alun-alun kota sejauh 1 kilometer dengan berjalan kaki. Ketika sampai di depan pendopo kabupaten, mereka melakukan atraksi di depan bupati Kudus beserta jajarannya.

Jadi, selain beberapa tradisi di atas masih banyak lagi tradisi yang ada di negeri ini. Kira-kira apalagi tradisi yang ada di kampung tempat tinggal kalian.

Silahkan tinggalkan komentar ataupun share tulisan ini.